Abdur-Rahman Bin Muljam, Potret Buram Seorang Korban Pemikiran Khawarij
Oleh : Muhammad ‘Ashim bin Musthafa
Kebenaran pemahaman dan itikad yang baik merupakan tonggak penting dalam mengaplikasikan ajaran Islam secara benar. Dua perkara ini harus seiring-sejalan. Ketika salah satunya tidak terpenuhi, maka tabiat orang-orang Yahudi -yang tidak mempunya itikad baik di hadapan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala -, dan penganut Nashâra -yang berjalan tanpa petunjuk ilmu- akan berkembang di tengah umat. Akibatnya timbullah kerusakan.
Contoh perihal bahaya dari pemahaman yang tidak lurus ini, dapat dilihat pada diri ‘Abdur- Rahmaan bin Muljam. Sosok ini telah teracuni pemikiran Khawaarij. Yaitu satu golongan yang kali pertama keluar dari jama’atul-muslimîn. Sejarah mencatat kejahatan kaum Khawaarij ini telah melakukan pembunuhan terhadap Amîrul-Mu`minîn ‘Ali bin Abi Thâlib, yang juga kemenakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
SIAPAKAH ‘ABDUR-RAHMÂN BIN MULJAM?
Merupakan kekeliruan jika ada yang menganggap ‘Abdur-Rahmân bin Muljam dahulu seorang yang jahat. Sebelumnya, ‘Abdur-Rahmân bin Muljam ini dikenal sebagai ahli ibadah, gemar berpuasa saat siang hari dan menjalankan shalat malam. Namun, pemahamannya tentang agama kurang menguasai.
Meski demikian, ia mendapat gelar al-Muqri`. Dia mengajarkan Al-Qur`ân kepada orang lain. Tentang kemampuannya ini, Khalifah ‘Umar bin al Khaththab sendiri mengakuinya. Dia pun pernah dikirim Khaliifah ‘Umar ke Mesir untuk memberi pengajaran Al-Qur`ân di sana, untuk memenuhi permintaan Gubernur Mesir, ‘Amr bin al-’Aash, karena mereka sedang membutuhkan seorang qâri.
Dalam surat balasannya, ‘Umar menulis: “Aku telah mengirim kepadamu seorang yang shâlih, ‘Abdur-Rahmân bin Muljam. Aku merelakan ia bagimu. Jika telah sampai, muliakanlah ia, dan buatkan sebuah rumah untuknya sebagai tempat mengajarkan Al-Qur`ân kepada masyarakat”.
Sekian lama ia menjalankan tugasnya sebagai muqri`, sampai akhirnya benih-benih pemikiran Khawârij mulai berkembang di Mesir, dan berhasil menyentuh ‘âthifah (perasaan)nya, hingga kemudian memperdayainya.[1]
MERENCANAKAN PEMBUNUHAN TERHADAP ‘ALI BIN ABI THÂLIB [2]
Inilah salah satu keanehan ‘Abdur-Rahmân yang sudah terjangkiti pemikiran Khawârij. Tiga orang penganut paham Khawârij – ‘Abdur-Rahmân bin Muljam al-Himyari, al-Burak bin ‘Abdillah at-Tamîmi dan ‘Amr bin Bakr at-Tamîmi – mereka berkumpul bersama, sambil mengingat-ingat tentang ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu yang telah menghabisi kawan-kawan mereka di perang Nahrawân. Mereka pun berdoa memohon rahmat kebaikan bagi orang-orang yang telah menemui ajalnya itu.
Peristiwa peperangan Nahrawân sangat membekaskan luka mendalam pada hati mereka. Salah seorang dari mereka berkata: “Apa lagi yang akan kita perbuat setelah kepergian mereka? Mereka tidak takut terhadap apapun di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaiknya kita mengorbankan jiwa dan mendatangi orang-orang yang sesat itu [3]. Kita bunuh mereka, sehingga negeri ini terbebas dari mereka, dan kita pun telah melunasi balas dendam?”
Akhirnya, mereka merencanakan balas dendam dengan merancang pembunuhan terhadap tiga orang yang mereka anggap bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Pembunuhan ini mereka anggap sebagai tangga untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka sepakat melakukan pembunuhan terhadap tiga orang itu, yaitu ‘Ali bin Abi Thâlib, Mu’awiyyah dan ‘Amr bin al ‘Âsh Radhiyallahu ‘anhum, dan mereka berani mempertaruhkan nyawa untuk mewujudkan rencana keji itu.
Rencana ‘Abdur- Rahmân bin Muljam untuk membunuh ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu kian menguat setelah didorong oleh seorang perempuan.
Dikisahkan, adalah Fithâm nama wanita itu. Kecantikannya yang masyhur di tengah kaum muslimin telah berhasil merebut hati ‘Abdur-Rahmân bin Muljam. Hingga ia melupakan misi jahatnya di Kufah, yaitu membunuh Amirul-Mu`minin ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu ‘anhu. Namun tak terduga, hasratnya memperistri wanita yang terkenal cantik itu, justru memicu niatnya yang sempat terlupakan.
Pasalnya, selain permintaan mas kawin yang berupa kekayaan duniawi, wanita ini juga memasukkan pembunuhan terhadap ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu sebagai syarat, jika Ibnu Muljam ingin memperistrinya. Syarat pinangan yang aneh ini yang kemudian mengingatkan Ibnu Muljam dengan niat jahat itu, dan ia bertambah semangatnya untuk segera mewujudkan niat buruknya. Katanya,”Ya, ia adalah bagianku. Demi Allah, tidaklah aku datang ke tempat ini kecuali dengan niat untuk membunuh ‘Ali”. Syarat ini terpenuhi dan pernikahan pun dilaksanakan. Semenjak itu, sang wanita ini selalu membakar semangat suaminya untuk merealisasikan niatnya. Bahkan ia memberi bantuan kepada Ibnu Muljam seorang lelaki yang bernama Wardân untuk mewujudkan rencana jahat itu.
Setelah itu, Ibnu Muljam pun mengajak seseorang yang Syabiib bin Najdah al Asyja’i. Katanya,”Maukah engkau memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat?”
Tetapi, begitu mendengar yang dimaksud ialah membunuh ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu, maka Syabîb menampiknya. Karena ia mengetahui, ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu memiliki jasa yang sangat besar bagi Islam dan kaum muslimin, dan ia memiliki kedekatan dalam hal kekerabatan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Melihat penolakan ini, Ibnu Muljam tak kalah cerdik. Dengan agresifitasnya, ia membakar emosi Syabîb dengan menyebut kematian orang-orang Khawarij di tangan ‘Ali. Yang akhirnya, ia berhasil menjinakkan hati Syabîb. Padahal Khalifah ‘Ali bin Thâlib -pada masa itu- ialah orang yang paling tekun beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, paling zuhud terhadap dunia, paling berilmu dan paling bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla.
Mereka bertiga kemudian bergerak melancarkan niatnya pada malam 17 Ramadhan 41 H . Hari yang sudah diputuskan oleh Ibnu Muljam, al-Burk dan ‘Amr bin Bakr untuk menyudahi nyawa tiga orang sahabat Rasulullah, yaitu ‘Ali, Mu’awiyyah, dan Amr bin al-’Âsh Radhiyallahu ‘anhum.
Begitu waktu subuh tiba, sebagaimana biasa Amirul-Mu`minin ‘Ali bin Thâlib keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat Subuh dan membangunkan manusia. Saat itulah pedang Khawarij yang beracun menciderai ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu. Ketika Ibnu Muljam menyabetkan pedangnya pada bagian pelipis ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berseru: “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah, bukan milikmu atau orang-orangmu (wahai ‘Ali),” lantas ia membaca ayat :
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”. [al Baqarah/2:207].[4]
Mendapat serangan ini, Amirul-Mu`minin berteriak meminta tolong. Dan akhirnya Ibnu Muljam berhasil ditangkap hidup-hidup. Adapun Wardân, ia langsung terbunuh. Sedangkan Syabîb berhasil meloloskan diri.
AKHIR KEHIDUPAN ‘ABDUR-RAHMAAN BIN MULJAM
Ketika Amirul-Mu`minin ‘Ali bin Thâlib Radhiyallahu ‘anhu dipastikan meninggal karena serangan Ibnu Muljam, maka diputuskanlah hukuman mati bagi Ibnu Muljam. Hukuman ini diawali dengan memotong kedua kaki dan tangannya dan menusuk dua matanya, kemudian dilanjutkan dengan membakar jasadnya.
Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentang Ibnu Muljam: “Sebelumnya, ia adalah seorang ahli ibadah, taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, akhir kehidupannya ditutup dengan kejelekan (su`ul khâtimah). Dia membunuh Amirul-Mu’minin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu dengan alasan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui tetesan darahnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ampunan dan keselamatan bagi kita”.[5]
Berbeda dengan anggapan kalangan Khawârij. Di tengah mereka, ‘Abdur-Rahmân bin Muljam ini dielu-elukan bak pahlawan. Dia mendapatkan pujian dan sanjungan. Di antaranya keluar dari ‘Imrân bin Haththân. Orang ini, sebelumnya dikenal sebagai ahli ilmu dan ahli ibadah. Namun, perkawinannya dengan seorang wanita yang memiliki pemikiran Khawârij, menjadikannya berubah secara drastis. Dia mengikuti pemahaman istrinya. Dia merangkai bait-bait sya’ir sebagai pujian yang ditujukan kepada ‘Abdur-Rahmân bin Muljam:
Oh, sebuah sabetan dari orang bertakwa, tiada yang ia inginkan
selain untuk menggapai keridhaan di sisi Dzat Pemilik ‘Arsyi
Suatu waktu akan kusebut namanya, dan aku meyakininya
(sebagai) insan yang penuh timbangan (kebaikannya) di sisi Allah.[6]
Pujian ini tentu merupakan perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan), sehingga dapat menyeret seseorang menjadi keliru dalam memandang kebatilan hingga terlihat sebagai kebenaran di matanya. Na’ûdzu billahi min dzâlik. Golongan lain yang juga memberi sanjungan kepada pembunuh ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu, yaitu golongan Nushairiyyah. Konon katanya, karena Ibnu Muljam telah melepaskan “ruh ilâhi” dari tanah.[7]
BEBERAPA PELAJARAN DARI KISAH DI ATAS
1. Pemahaman yang benar dalam mengaplikasikan Islam merupakan keharusan bagi seorang muslim. Dalam hal ini, para sahabat merupakan generasi Islam pertama, yang pastinya paling memahami Islam. Mereka mereguknya langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketika muncul pergolakan yang disulut kaum Khawaarij, tidak ada satu pun dari sahabat yang merapat ke barisan mereka. Pemahaman-pemahaman terhadap Islam yang tidak mengacu kepada para sahabat -sebagai generasi pertama umat Islam- hanya akan berakhir dengan kekelaman. Motif mereka sesat, karena beranggapan pembunuhan ini sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alasan demikian tentu menjatuhkan citra Islam, dan menjadi ternoda karenanya. Hal ini bisa menimpa siapa pun yang berbuat tanpa dasar ilmu, tanpa pemahaman yang lurus, dan hanya mengandalkan perasaan atau hawa nafsu semata.
2. Kebodohan itu berbahaya, lantaran menyebabkan ketidakjelasan barometer syar’i bagi seseorang, sehingga membuat kelemahan dalam tashawwur (pendeskripsian) dalam memandang suatu masalah.[8]
3. Bahaya teman dekat (istri, suami) yang berpemikiran buruk atau menyimpang. Wallahu a’lam
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03//Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
Diposting ulang dari www.almanhaj.or.id
_______
Footnote
[1]. Nukilan dari Al Ghuluww, Mazhâhiruhu, Asbâbuhu, ‘Ilâjuhu, Muhammad bin Nâshir al ‘Uraini, Pengantar: Syaikh Shâlih al Fauzân, Tanpa Penerbit, Cetakan I, Tahun 1426 H.
[2]. Lihat al-Bidayah wan-Nihâyah, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah, Maktabah ash-Shafâ, Cetakan I, Tahun 1423H-2003 M (7/266-268)
[3]. Maksudnya ialah ‘Ali bin Abi Thâlib, Mu’awiyyah dan ‘Amr bin al-’Âsh Radhiyallahu ‘anhum.
[4]. Ibnu Muljam mengira dirinya masuk dalam konteks ayat yang ia baca itu, Pen.).
[5]. Mizânul-I’tidâl, Abu ‘Abdillah Muhammad adz-Dzahabi, Darul-Ma’rifah, Beirut, tanpa tahun, 2/592.
[6]. Al-Farqu bainal-Firaq, ‘Abdul-Qâhir al-Baghdâdi, Darul-Kutub al-’Ilmiyyah, tanpa tahun, hlm. 62-63.
[7]. Al-Mausû’atul-Muyassaratu fil Ad-yâni wal-Mazhâhibi wal-Ahzâbil-Mu’âshirah, Cetakan V, Tahun 1424 H / 2003 M, 1/392.
[8]. Asbâbu Ziyâdatil-’Imân wa Nuqshânihi, Prof Dr. ‘Abdur-Razzâq al-’Abbâd, Ghirâs, Cetakan III, Tahun 2003M, hlm. 62.
Nukilan dari blog: http://mondokan.wordpress.com
Saturday, April 24, 2010
Thursday, April 22, 2010
Tawadhu'
Mencela Kesombongan Dan Melampaui Batas.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri" Surah An-Nisa' ayat 36.
Nabi SallalLahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:
"Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia"HR Muslim dan Hakim dengan lafaz yang mirip.
Membanggakan diri sama dengan merendahkan orang lain kerana kedua-duanya merupakan sifat sombong. Adapun menolak kebenaran adalah menentang dan menjauhinya serta menganggap bahawa kebenaran adalah kebathilan lalu iapun menentang dan menolak kebenaran tersebut.Dalam hal ini ada dua permasalahan:
Pertama:Seseorang yang menentang kebenaran sehingga yang hak menjadi bathil dan yang bathil menjadi hak sesuai dengan keinginan nafsu dan kesombongannya.ia juga berlaku sombong dan merendahkan manusia bertujuan untuk mengangkat kehendak dirinya dan menjatuhkan orang lain.RasululLah dalam kitab Sahih Muslim dari 'Iyadh bin Himar al-Majasyi'i dari Nabi SallalLahu 'Alaihi Wa Sallam:
"Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku bahawa hendaklah kalian bertawadhu'sehingga tidak ada seorang pun yang merasa sombong atas orang lain dan tidak ada orang yang melampaui batas terhadap orang lain".HR Muslim,Abu Daud, dan al-Bukhari dalam Adabul Mufrad.
Kemudian RasululLah bersabda dalam masalah kesombongan yang dibenci oleh Allah,"Kesombongan itu terdapat pada kebanggaan dan kejahatan".HR Abu Daud an-Nasaie Ahmad dan Ibnu Hibban. Hadits ini menunjukkan bahawa menyuruh orang lain untuk taat jika bukan atas kebenaran merupakan sebuah kejahatan,dan kejahatan adalah tindakan yang melampaui batas,dan jika itu kebenaran maka itu adalah kesombongan.
Kedua: (Sombong dan kejahatan)berhubung dengan keyakinan dan keinginan, akan tetapi kesombongan adalah melecehkan kebenaran yang kembali kepada kebenaran itu sendiri,iaitu hak Allah walaupun tidak berhubung dengan hak manusia. Sedangkan kesombongan dan melecehkan manusia itu kembali kepada hak manusia, sehingga perbezaan antara keduanya untuk membezakan antara hak manusia dan hak Allah. Ini berbeza dengan syahwat ketika berzina dan memakan harta orang lain. Ketika Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,(iaitu)orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir.". Surah an-Nisa' ayat36-37.
Yang disebut dengan bakhil ialah menolak kemanfaatan. Hal ini dibatasi dengan menolak kemanfaatan.
Di Ceduk dari buku Tazkiyatun Nafs karangan Syaikul Islam Ibnu Taymiyyah.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri" Surah An-Nisa' ayat 36.
Nabi SallalLahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:
"Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia"HR Muslim dan Hakim dengan lafaz yang mirip.
Membanggakan diri sama dengan merendahkan orang lain kerana kedua-duanya merupakan sifat sombong. Adapun menolak kebenaran adalah menentang dan menjauhinya serta menganggap bahawa kebenaran adalah kebathilan lalu iapun menentang dan menolak kebenaran tersebut.Dalam hal ini ada dua permasalahan:
Pertama:Seseorang yang menentang kebenaran sehingga yang hak menjadi bathil dan yang bathil menjadi hak sesuai dengan keinginan nafsu dan kesombongannya.ia juga berlaku sombong dan merendahkan manusia bertujuan untuk mengangkat kehendak dirinya dan menjatuhkan orang lain.RasululLah dalam kitab Sahih Muslim dari 'Iyadh bin Himar al-Majasyi'i dari Nabi SallalLahu 'Alaihi Wa Sallam:
"Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku bahawa hendaklah kalian bertawadhu'sehingga tidak ada seorang pun yang merasa sombong atas orang lain dan tidak ada orang yang melampaui batas terhadap orang lain".HR Muslim,Abu Daud, dan al-Bukhari dalam Adabul Mufrad.
Kemudian RasululLah bersabda dalam masalah kesombongan yang dibenci oleh Allah,"Kesombongan itu terdapat pada kebanggaan dan kejahatan".HR Abu Daud an-Nasaie Ahmad dan Ibnu Hibban. Hadits ini menunjukkan bahawa menyuruh orang lain untuk taat jika bukan atas kebenaran merupakan sebuah kejahatan,dan kejahatan adalah tindakan yang melampaui batas,dan jika itu kebenaran maka itu adalah kesombongan.
Kedua: (Sombong dan kejahatan)berhubung dengan keyakinan dan keinginan, akan tetapi kesombongan adalah melecehkan kebenaran yang kembali kepada kebenaran itu sendiri,iaitu hak Allah walaupun tidak berhubung dengan hak manusia. Sedangkan kesombongan dan melecehkan manusia itu kembali kepada hak manusia, sehingga perbezaan antara keduanya untuk membezakan antara hak manusia dan hak Allah. Ini berbeza dengan syahwat ketika berzina dan memakan harta orang lain. Ketika Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,(iaitu)orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir.". Surah an-Nisa' ayat36-37.
Yang disebut dengan bakhil ialah menolak kemanfaatan. Hal ini dibatasi dengan menolak kemanfaatan.
Di Ceduk dari buku Tazkiyatun Nafs karangan Syaikul Islam Ibnu Taymiyyah.
Wednesday, April 21, 2010

Keutamaan Dakwah Tauhid
KEUTAMAAN DAKWAH TAUHID
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Para da’i harus memulai dakwahnya dengan mengajak kepada tauhid karena itu adalah dakwah paling utama dan paling mulia. Dakwah tauhid berarti mengajak kepada derajat keimanan yang paling tinggi. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang atau lebih dari enam puluh cabang, cabang yang paling tinggi adalah perkataan: ‘Laa ilaaha illallaah’, yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (rintangan) dari jalan dan malu adalah salah satu cabang Iman.” [1]
Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan bahwasanya cabang-cabang keimanan lainnya tidak akan sah dan tidak diterima kecuali setelah sahnya cabang yang paling utama ini (tauhid).
Berdasarkan apa yang disebutkan di atas, maka semua gerakan dakwah yang berdiri tegak di atas dakwaan dan simbol ishlah (perbaikan), namun tidak memfokuskan perhatian dan tidak bertolak dari upaya perbaikan tauhid, tentunya akan terjadi penyelewengan dan penyimpangan sesuai dengan kejauhannya dari pokok yang sangat penting ini. Sebagaimana perbuatan orang-orang itu telah menghabiskan usia mereka dalam memperbaiki mu’amalah antara manusia, namun mu’amalah mereka terhadap al-Khaliq (Allah) atau ‘aqidah mereka terhadap-Nya menyimpang jauh dari petunjuk Salafush Shalih. Sama halnya dengan mereka yang telah menghabiskan umurnya dalam upaya menempati dan menduduki sistem pemerintahan dengan harapan akan mampu mengadakan perbaikan pada manusia melalui jalur tersebut atau dengan mengerjakan berbagai kegiatan politik untuk mengejar dan meraih kekuasaan, namun demikian mereka tidak menaruh perhatian untuk memperbaiki kerusakan ‘aqidah mereka dan kerusakan ‘aqidah orang-orang yang menjadi objek dakwah mereka.
Peran ‘aqidah dalam kehidupan amat penting, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menekankan kepada para da’i agar senantiasa mencurahkan perhatian mereka kepadanya dan mengawali dakwah mereka dengannya seperti yang tercantum dalam hadits Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu
Ada sebagian orang merasa heran dan aneh dengan diprioritaskannya dakwah kepada tauhid? (Kami jawab): “Bukankah hak Allah berupa pengesaan di dalam beribadah adalah sesuatu yang paling berhak mendapatkan perhatian dan paling berhak untuk sering diucapkan oleh lisan manusia? Tauhid adalah hak Allah Azza wa Jalla yang murni, bagaimana mungkin dianggap sebagai masalah kecil dan remeh oleh para pelopor gerakan-gerakan dan manhaj-manhaj dakwah di zaman ini? Bukankah hal inilah yang paling utama untuk dibukakan baginya pintu-pintu dan dilapangkan baginya tempat-tempat dan kesempatan?”
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menuturkan: “Tauhid adalah kunci pembuka dakwah para Rasul.” Kemudian beliau menyebutkan tentang hadits Mu’adz yang telah disebut sebelum-nya. [2]
Walaupun kondisi dan problematika ummat berbeda-beda namun tetap yang menjadi prioritas dalam dakwah adalah mengajak kepada tauhid. Sama saja halnya, apakah problem mereka di bidang perekonomian sebagaimana yang dihadapi oleh kaum Mad-yan, ataupun problem demoralisasi (kebobrokan moral) seperti yang terjadi pada kaum Nabi Luth Alaihissalam. Penulis tidak perlu menyebutkan: “Atau problem yang dihadapi mereka adalah krisis politik,” karena semua ummat dan bangsa yang tersebut pada ayat-ayat di atas belum diberlakukan pada mereka hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
Cahaya dakwah tauhid yang diberkahi ini sekali-kali tidak boleh padam sesaat pun hanya dengan berdalih kestabilan dan kemantapan tauhid pada hati-hati manusia.
Meskipun kesadaran dan sambutan ummat terhadap tauhid telah mencapai kesempurnaan, namun demikian pasti terdapat kekurangan pada diri manusia. Kekurangan yang paling jelek adalah kekurangan dalam keikhlasan dan lenyapnya keyakinan tauhid. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tinggal diam, beliau senantiasa menyebut kejelekan perbuatan syirik, hingga pada hari-hari terakhir kehidupan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia ini. Padahal kondisi ummat pada saat itu telah mencapai puncak kekuatannya dalam bertauhid kepada Rabb-nya dan mereka berada pada satu barisan. [3]
Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, PO BOX 7803/JACC 13340A. Cetakan Ketiga Jumadil Awwal 1427H/Juni 2006M]
_________
Footnotes
[1]. Lihat Madaarijus Saalikiin (III/462), cet. Daarul Hadits.
[2]. Disadur secara ringkas dari Sittu Durar min Ushuul Ahlil Atsar (hal. 16-20, 22, 23) oleh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani, cet. Maktabah al-‘Umarain al-‘Ilmiyyah, th. 1420 H, at-Tauhiid Awwalan yaa Du’aatal Islam oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany, cet. II-Maktabah al-Ma’arif-th. 1422 H, al-‘Aqiidah Awwalan lau Kaanu Ya’lamuun oleh Dr. ‘Abdul Aziz al-Qaari’, cet. II-th. 1406 H, Manhajul Anbiyaa’ fid Da’wah ilallaah fiihil Hikmah wal ‘Aql oleh Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali.
[3]. HR. Al-Bukhari (no. 9) dan Muslim (no. 35). Lafazh ini milik Muslim dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu
Monday, April 12, 2010
Bingkisan Istimewa untuk Saudariku untuk Bersegera Meninggalkan Nasyid “Islami”
Jika kita bicara tentang musik, dapat dipastikan bahwa mayoritas penduduk dunia ini menyukainya. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua gemar mendengarkan lagu-lagu nan merdu. Dari artikel yang lalu, kita telah mengetahui keharaman hukum nyanyian dan musik sebagaimana telah disebutkan dalam berbagai hadits yang shahih. Tidak pula diketahui adanya khilaf (perbedaan pendapat) di antara para ulama salaf mengenai hal ini. Tapi, kemudian timbul wacana baru yang dilontarkan oleh orang-orang yang menamai dirinya sebagai seniman muslim tentang nasyid islami. Mereka menganggap nasyid Islami sebagai sarana dakwah dan cara lain dalam bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Betulkah demikian?
Dalil Keharaman Musik
Saudariku, ketahuilah bahwa mendengarkan musik, nyanyian, atau lagu hukumnya adalah haram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ…
“Benar-benar akan ada segolongan dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik.” (HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa musik adalah haram menurut syari’at Islam. Hal yang menguatkan keharaman musik dalam hadits tersebut adalah bahwa alat musik disandingkan dengan hal lain yang diharamkan yaitu zina, sutra (diharamkan khusus bagi laki-laki saja), dan khamr.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِى لَهْوَ الْحَدِيْثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu.” (Qs. Luqman: 6)
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan jumhur ulama tafsir menafsirkan kata “lahwul hadits” (perkataan yang tidak berguna) adalah nyanyian atau lagu. Ibnu Katsir rahimahullah juga menegaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan keadaan orang-orang hina yang enggan mengambil manfaat dari (mendengarkan) Al Qur’an, malah beralih mendengarkan musik dan nyanyian.
Maka sangatlah tepat jika nyanyian disebut sebagai perkataan yang tidak berguna karena di dalamnya terkandung perkataan-perkataan yang tercela ataupun tidak mengandung manfaat, dapat menimbulkan penyakit hati, dan membuat kita lalai dari mengingat Allah.
Mengenal Nasyid
Orang-orang Arab pada zaman dahulu biasanya saling bersahut-sahutan melemparkan sya’ir. Dan sya’ir mereka ini adalah sebuah spontanitas, tidak berirama dan tidak pula dilagukan. Inilah yang disebut nasyid. Nasyid itu meninggikan suara dan nasyid merupakan kebudayaan orang Arab, bukan bagian dari syari’at Islam. Nasyid hanyalah syair-syair Arab yang mencakup hukum-hukum dan tamtsil (permisalan), penunjukan sifat keperwiraan dan kedermawanan.
Nasyid tidaklah haram secara mutlak dan tidak juga dibolehkan secara mutlak, tergantung kepada sya’ir-sya’ir yang terkandung di dalamnya. Berbeda dengan musik yang hukumnya haram secara mutlak. Ini karena nasyid bisa saja memiliki hikmah yang dapat dijadikan pembelajaran atau peringatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya di antara sya’ir itu ada hikmah.” (Riwayat Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 6145, Ibnu Majah no. 3755, Imam Ahmad (III/456, V/125), ad-Daarimi (II/296-297) dan ath-Thayalisi no. 558, dari jalan Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu)
Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang sya’ir, maka beliau bersabda,
“Itu adalah perkataan, maka sya’ir yang baik adalah baik, dan sya’ir yang buruk adalah buruk.” (Riwayat Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, dan takhrijnya telah diluaskan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Hadits ash-Shahihah no. 447)
Nasyid Pada Zaman Dahulu
Orang-orang pada zaman dulu biasa membakar semangat berperang dengan melantunkan sya’ir-sya’ir. Dan banyak pula orang-orang asing di antara mereka yang hendak berhaji melantunkan sya’ir tentang ka’bah, zam-zam, dan selainnya ketika berada di tengah perjalanan. Abdullah bin Rawahah pun pernah melantunkan sya’ir untuk menyemangati para shahabat yang sedang menggali parit ketika Perang Khandaq. Beliau bersenandung,
“Ya Allah, tiada kehidupan kecuali kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin.” Kaum Muhajirin dan Anshar menyambutnya dengan senandung lain, “Kita telah membai’at Muhammad, kita selamanya selalu dalam jihad.” (Rasa’ilut Taujihat Al Islamiyah, I/514–516)
Akan tetapi, para sahabat Nabi tidak melantunkan sya’ir setiap waktu, mereka melakukannya hanya pada waktu-waktu tertentu dan sekedarnya saja, tidak berlebihan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
“Sesungguhnya penuhnya rongga perut salah seorang di antara kalian dengan nanah itu lebih baik baginya daripada penuh dengan sya’ir.” (Riwayat Imam Bukhari no. 6154 dalam “Bab Dibencinya Sya’ir yang Mendominasi Seseorang, Sehingga Menghalanginya Dari Dzikir Kepada Allah”, ‘Ilmu dan al-Qur’an, diriwayatkan dari jalan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu)
Maksud dari riwayat di atas adalah kecenderungan hati seseorang kepada sya’ir-sya’ir sehingga menyibukkannya dan memalingkannya dari kesibukan dzikrullah dan mentadabburi al-Qur’an, itulah orang-orang yang dikatakan sebagai orang dengan rongga perut yang penuh dengan sya’ir. (Fat-hul Baari X/564)
Nasyid Pada Zaman Sekarang
Nasyid yang ada pada zaman sekarang tidak jauh berbeda dengan nyanyian dan musik yang telah jelas keharamannya. Berbeda dengan zaman dahulu, sya’ir-sya’ir mulai dilagukan dan mengikuti kaidah/aturan seni musik, sehingga menjatuhkan pelakunya kepada bentuk tasyabbuh (menyerupai) kepada orang-orang kafir dan fasik. Ditambah lagi, kelompok nasyid yang belakangan didominasi oleh kaum laki-laki ini menambahkan alat musik sebagai ‘pemanis’ di dalamnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “(Setelah diketahui dari riwayat yang shahih bahwa) bernyanyi, memainkan rebana, dan tepuk tangan adalah perbuatan kaum wanita, maka para ulama Salaf menamakan para laki-laki yang melakukan hal itu dengan banci, dan mereka menamakan penyanyi laki-laki itu dengan banci, dan ini adalah perkataan masyhur dari mereka.” (Majmuu’ Fataawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah XI/565-566)
Kelompok-kelompok nasyid pada zaman sekarang yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, mereka ingin menggeser kesukaan para pemuda terhadap lagu-lagu dan musik yang tidak Islami kepada lagu-lagu dan musik yang mereka labelkan “Islami”. Bahkan, acara-acara rohis di sekolah-sekolah dan kampus-kampus pun hampir tidak pernah sepi dari nasyid. Seolah hal ini merupakan pembenaran terhadap nasyid.
Sebagian orang (ironisnya kebanyakan dari mereka adalah para aktivis dakwah) beranggapan bahwa yanyian/musik yang diharamkan adalah nyanyian yang liriknya tidak islami. Sedangkan untuk “musik islami’ atau “nasyid” maka tidak mengapa, bahkan nasyid dapat membangkitkan semangat dan sebagai sarana ibadah dan dakwah karena lagu-lagu tersebut menggambarkan tentang Islam dan mengajak para pendengarnya kepada keislaman.
Nasyid yang seperti ini adalah kelanjutan dari bid’ah kaum sufi yang menjadikan nyanyian-nyanyian (mereka menamakannya dengan as-sama’) sebagai bentuk ibadah dan keta’atan mereka kepada Allah. Kaum sufi menganggap bahwa sya’ir-sya’ir yang mereka sebut dengan at-taghbiir (sejenis sya’ir yang berisikan anjuran untuk zuhud kepada dunia) adalah bentuk dzikir mereka kepada Allah, sehingga mereka layak untuk dikatakan sebagai al-mughbirah (orang-orang yang berdzikir kepada Allah dengan do’a dan wirid). Ketika mereka melantunkan ‘dzikir’ mereka, mereka menambahkannya dengan kehadiran alat-alat musik yang semakin menambah keharamannya, tetapi mereka menganggap itu sebagai upaya untuk melembutkan hati. Na’udzubillah. Imam Ahmad ketika ditanya tentang at-taghbir, maka beliau menjawab: “(Itu adalah) bid’ah”.
Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan bahwa beribadah dengan sya’ir dan bernasyid sebagai bentuk dzikir, do’a dan wirid adalah bid’ah. Dan ini lebih buruk daripada berbagai jenis pelanggaran dalam berdo’a dan berdzikir. (Tash-hiidud Du’aa hal. 78)
Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly dan Ummu Ismail Noviyani Maulida
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar
***
Artikel muslimah.or.id

Ustadz Abu Ashim.LC
Kata tazkiyah berarti mensucikan atau membersihkan. Karena itulah sedekah harta dinamakan Zakat harta . Tujuannya adalah dengan dikeluarkannya hak Allah Ta`ala dari harta itu ia menjadi suci dan bersih. Dari kata tazkiyah dikenallah istilah Tazkiyah An-Nafs yang bermakna membersihkan Jiwa . dari setiap kotoran dan peningkatannya menuju kemuliaan akhlak. Hal ini merupakan salah satu tujuan penting diutusnya Nabi Muhammad Shollahu alaihi wasallam yang juga merupakan salah satu rukun kenabian beliau. Firman Allah:
هُوَ الَّذى بَعَثَ فِى الأُمِّيّۦنَ رَسولًا مِنهُم يَتلوا عَلَيهِم ءايٰتِهِ وَيُزَكّيهِم وَيُعَلِّمُهُمُ الكِتٰبَ وَالحِكمَةَ وَإِن كانوا مِن قَبلُ لَفى ضَلٰلٍ مُبينٍ
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”( QS. Al-Jum`ah:2 )
Karenanya siapapun yang mengharapkan surga dan takut neraka serta mengharapkan kebahagiaan hakiki mesti memperhatikan kebersihan hatinya. Sebab Allah juga telah menggantungkan kebahagiaan seorang hamba kepada tazkiyah an-nafs ini. Sampai Allah bersumpah sebanyak 11 kali secara beruntun di dalam Al-Qur`an untuk memastikan hal tersebut. Firman Allah:
وَالشَّمسِ وَضُحىٰها ﴿١﴾ وَالقَمَرِ إِذا تَلىٰها ﴿٢﴾ وَا إِذا جَلّىٰها ﴿٣﴾ وَالَّيلِ إِذا يَغشىٰها ﴿٤﴾لنَّهارِ وَالسَّماءِ وَما بَنىٰها ﴿٥﴾ وَالأَرضِ وَما طَحىٰها ﴿٦﴾ وَنَفسٍ وَما سَوّىٰها ﴿٧﴾ فَأَلهَمَها فُجورَها وَتَقوىٰها ﴿٨﴾ قَد أَفلَحَ مَن زَكّىٰها ﴿٩﴾ وَقَد خابَ مَن دَسّىٰها ﴿١٠
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS.As-Syams:1-10) [1]
Ternyata kecukupan materi dan kemajuan teknologi yang kita saksikan belakangan ini tidak menjamin kebahagiaan hidup. Bahkan fakta berbicara lain, bahwa kegalauan hidup dan kekeringan jiwa menjadi fenomena yang menjamur di mana-mana. Manusia saat ini lebih mengedepankan alam materi, yang menjadikan mereka bak robot yang otaknya hanya terperas demi uang. Sementara kebutuhan rohani berupa pengajaran agama, tauhid, pendidikan ruhiyah, tazkiyah bagi jiwa seakan tak mendapat porsi bagi waktu-waktu mereka.[2] Mereka tertipu dengan kesenangan Al-Wahmiayah ( semu ) dan lupa dengan kesenangan yang hakiki dan abadi. Firman Allah ta`ala:
يَعلَمونَ ظٰهِرًا مِنَ الحَيوٰةِ الدُّنيا وَهُم عَنِ الءاخِرَةِ هُم غٰفِلونَ
Mereka Hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS.Arrum: 7 )
Mereka hanya terpaku dan yakin pada sebab-sebab yang zhohir. Tidak yakin kepada zat yang menjadikan sebab akibat dan yang berkuasa terhadap apa saja. Sehingga hati mereka dan cenderung hanya mencari dunia dan gemerlapnya yang fana, lalai dari akhirat, tidak mengharap Surga, tidak takut Neraka, perjumpaan dengan Allah tidak menggetarkannya. Sungguh inilah kelalaian yang nyata dan pertanda kecelakaan yang abadi.
Anehnya dari jenis manusia seperti ini ada yang kecerdikan dan kamahirannya terhadap hal yang bersifat duniawi dapat mencengangkan akal dan menakjubkan bagi orang-orang yang punya pikiran. Mereka mencetuskan berbagai teknologi mutakhir, pembangkit listrik, sarana komunikasi dan tranportasi, serta yang lainnya. Sehingga merekapun bangga dengan otak dan kemampuan yang Allah mudahkan bagi mereka. Merekapun memandang orang lain dengan pandangan remeh dan hina. Tetapi ternyata mereka juga adalah manusia paling bodoh terhadap diin ( agama ) mereka, orang paling lalai terhadap akhirat mereka, lupa kepada Allah sehingga Allahpun membuat mereka lupa terhadap diri mereka sendiri, sungguh mereka itulah orang – orang yang fasik.[3]
Perhatikanlah siksa demi siksa yang Allah timpakan bagi mereka akibat lalai mentazkiyah hati mereka dan mengikuti hawa nafsu saja, Allah ta`ala berfirman :
وَلا تُطِع مَن أَغفَلنا قَلبَهُ عَن ذِكرِنا وَاتَّبَعَ هَوىٰهُ وَكانَ أَمرُهُ فُرُطًا
“ …dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS.Alkahfi:28 )
Diantara siksa yang Allah berikan kepada mereka yang lalai dari peringatan dan mengingat Allah adalah : Hati yang selalu sibuk. Selalu lalai yang menjadikan lupa akan hal-hal yang bermanfaat baginya. Kemudian urusannya kacau balau. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Lihatlah mereka, kalau otak sudah sibuk, fisik selalu maksiat, lalu lalai dari tugas yang sebenarnya apa lagi penderitaan yang kurang dari ini.[4]
Barang kali sebagai bahan renungan, setiap kita mungkin telah tahu kemajuan dan kemakmuran Negara Swiss, negara ini termasuk salah satu negara terkaya di dunia. Fakta mencengangkan ternyata negara ini adalah negara dengan kasus bunuh diri terbanyak. Akankah mereka tega membunuh diri mereka jikalau mereka mendapatkan kebahagiaan yang hakiki? Ataukah memang mereka bunuh diri untuk mengakhiri kegalauan dan penderitaan batin yang mereka rasakan? Tentu jawabanya ialah karena ingin menyudahi penderitaan batin yang mereka alami. Kasihan memang.
Kemudian kita semua mungkin masih ingat krisis moneter yang melanda negeri kita yang tercinta ini. Persisnya pada tahun 1998/1999 di penghujung Era Orde Baru. Dimana harga Rupiah terhadap Dollar US. sekitar 14,000 rupiah. Keributan, demonstrasi, penjarahan merupakan pemandangan sehari-sehari. Parahnya lagi, yang barang kali luput dari perhatian sebagian kita yaitu penuhnya rumah sakit jiwa saat itu. Siapakah yang memenuhi rumah-rumah sakit tersebut? orang miskin atau para buruh? ternyata tidak, mereka adalah orang-orang kaya, para konglomerat kelas atas. Benarlah firman Allah Ta`ala yang berbunyi :
الَّذينَ ءامَنوا وَتَطمَئِنُّ قُلوبُهُم بِذِكرِ اللَّهِ ۗ أَلا بِذِكرِ اللَّهِ تَطمَئِنُّ القُلوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.( QS.Ar-Ro`du: 28 )
ٍMakna ( Tathmainnu Qulubuhum ) Hati mereka jadi tenteram ialah : lenyaplah kegoncangan dan kecemasan dari hati mereka, kemudian Allah gantikan dengan kedamaian, kesenangan serta kelapangan pada batin mereka.[5]
Adapun orang-orang yang jauh dari pedoman hidup yang benar ( Islam ) dan jauh dari tuntunan Allah dan Rasulnya maka mereka merasakan kegoncangan hati, putus asa, tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Kecendrungan terjadinya stress pada diri mereka sangat tinggi. Hidup tidak berkah, itu semua merupakan salah satu siksa dari Allah pada mereka di dunia. Adapun orang beriman Allah akan menjadikah kekayaan pada hati mereka, bagaikan perbendaharaan harta yang tidak ada habisnya. Sabda Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam :
من كانت الآخرة همه جعل الله غناه في قلبه وجمع له شمله وأتته الدنيا وهي راغمة، ومن كانت الدنيا همه جعل الله فقره بين عينيه وفرق عليه شمله ولم تأت من الدنيا إلا ما قدر له . رواه الترميذي وابن ماجه
“ Barang siapa yang mengharapkan akhirat, Allah akan menjadikan kekayaan di hatinya dan menghimpun seluruh urusannya bagi dia, serta dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Adapun siapa yang mengharapkan dunia, Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya dan mencerai beraikan urusannya, serta dunia tidak akan datang kepadanya kecuali yang sudah ditakdirkan baginya”. ( Riwayat Tirmidzi dengan riwayat yang dhoif, tetapi diperkuat dengan haitds serupa riwayat Ibnu Majah, dalam Az-Zuhd II/1375 dengan lafal yang berbeda)
Demikianlah, kalau seandainya para Raja pun mengetahui kelezatan dan kesenangan (batin) yang didapatkan para Ulama, niscaya mereka akan merampas kesenangan tersebut dari para Ulama sekalipun dengan pedang-pedang mereka. Hal tersebut adalah dikarenakan Allah tidak akan memberikan kesenangan, keberkahan hidup, kepuasan batin kecuali kepada kekasih dan para walinya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata: Demi Allah tidak akan pernah memasukan ke surga akhirat orang yang tidak pernah merasakan surga dunia. Maksud beliau surga dunia ialah kelezatan batin yang didapatkan seseorang tatkala sedang melakukan ketaatan kepada Allah ta`ala. Hal ini senada dengan apa yang dikatan Imam An-Nawawi Rahimahullah tatkala mentafsirkan Hadits Rasululloh Shollallahu alaihi wasallam yang berbunyi:
ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله ، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه ، كما يكره أن يقذف في النار . رواه البخاري ومسلم
“ Ada tiga poin barang siapa ada padanya akan merasakan manisnya iman : Allah dan Rasulnya lebih ia cintai dari selain keduanya, mencintai seseorang karena Allah, benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah mengeluarkannya dari kekufuran tersebut, sebagaimana bencinya apabila ia dicampakkan kedalam neraka.” ( HR.Bukhori no :16. dan Muslim no:43 )
Makna “ Halawatul Iman” ( Manisnya iman ) kata beliau ialah: Merasakan kelezatan ibadah dan sabar menanggung kesusahan ibadah ” . [6] Sehingga dia meyakini dan merasakan kedamaian dan kesejukan batin hanya kalau berada di samping Allah dan berkholwat dengannya, dengan melalui menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Kesengsaraan dan kecelakaan sangat terasa tatkala jauh dari sang Kholiq dan juga tatkala meninggalkan perintah atau melanggar larangan-Nya.Renungkan juga firman Allah:
وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرى فَإِنَّ لَهُ مَعيشَةً ضَنكًا وَنَحشُرُهُ يَومَ القِيٰمَةِ أَعمىٰ ﴿١٢٤﴾ قالَ رَبِّ لِمَ حَشَرتَنى أَعمىٰ وَقَد كُنتُ بَصيرًا ﴿١٢٥﴾ قالَ كَذٰلِكَ أَتَتكَ ءايٰتُنا فَنَسيتَها ۖ وَكَذٰلِكَ اليَومَ تُنسىٰ ﴿١٢٦
“ Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.
Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, Mengapa Engkau menghimpunkan Aku dalam keadaan buta, padahal Aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”.
Allah berfirman: “Demikianlah, Telah datang kepadamu ayat-ayat kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari Ini kamupun dilupakan “( QS.:Thoha : 124-126 )
Demi Allah, Siksaan batin yang dirasakan orang Kafir didunia ini bila dibandingkan dengan `adzab Allah di akhirat nanti belum ada apa-apanya. Masih dikatakan dunia ini adalah surga bagi mereka (Semoga Allah melindungi kita dari azabnya) jika dikiyaskan dengan penderitaan yang Allah akan timpakan bagi mereka diakhirat berupa `Azab kubur, Api neraka dan lainya. Sementara bagi seorang mukmin dunia ini laksana penjara sekalipun ia berada diatas kemewahan duniawi. Kalau memang dibandingkan dengan kesenangan yang Allah Ta`ala siapkan bagi orang-orang yang beriman diakhirat kelak. Seperti nikmat kubur, nikmat surga, terlebih lagi jika melihat Wajah Yang Maha Rohman Jalla Wa`ala.
Jangan sampai kita digolongkan kepada orang-orang yang seperti disebutkan dalam Firman Allah, yaitu yang di akhirat kelak penuh dengan penderitaan dan penyesalan :
وَهُم يَصطَرِخونَ فيها رَبَّنا أَخرِجنا نَعمَل صٰلِحًا غَيرَ الَّذى كُنّا نَعمَلُ ۚ أَوَلَم نُعَمِّركُم ما يَتَذَكَّرُ فيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجاءَكُمُ النَّذيرُ ۖ فَذوقوا فَما لِلظّٰلِمينَ مِن نَصيرٍ
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Rabbi, keluarkanlah kami. niscaya kami akan mengerjakan amalan saleh berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan.’ Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup bagi orang yang mau berpikir?! Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (QS: Faathir: 37)
Seandainya kita mau berpikir betapa mengerikannya hari-hari itu sehingga kita merenungkan jalan hidup kebanyakan manusia di dunia yang kita lihat selama ini, niscaya kita akan sadar betul bahwa ternyata masih banyak di antara kita yang telah terlena dengan keindahan dunia yang semu ini dan lupa bahwa setelah kehidupan dunia yang sementara ini masih ada kehidupan lain yang kekal abadi yang lamanya satu hari di sana sama dengan 50 ribu tahun di dunia!
Kita telah terlena dengan gemerlapnya dunia dan lupa untuk beribadah kepada Allah dan beramal saleh. Padahal pada hakikatnya kita hanya diminta untuk beramal selama 30 tahun saja! Tidak lebih dari itu. Suatu waktu yang amat singkat!
Ya, kalaupun umur kita 60 tahun, sebenarnya kita hanya diminta untuk beramal selama 30 tahun saja. Karena umur yang 60 tahun itu akan dikurangi masa tidur kita di dunia yang jika dalam satu hari adalah 8 jam, berarti masa tidur kita adalah sepertiga dari umur kita yaitu : 20 tahun. Lalu kita kurangi lagi dengan masa kita sebelum balig, karena seseorang tidak berkewajiban untuk beramal melainkan setelah ia balig, taruhlah jika kita balig pada umur 10 tahun, berarti umur kita hanya tinggal 30 tahun!
Subhanallah, bayangkan, pada hakikatnya kita diperintahkan untuk bersusah payah dalam beramal saleh di dunia hanya selama 30 tahun saja! Alangkah naifnya jika kita enggan bersusah payah selama 30 tahun di dunia untuk beramal saleh, sehingga akan berakibat kita mendapat siksaan yang amat pedih di akhirat selama puluhan ribu tahun.[7] Maka janganlah kita menjual akhirat kita dengan harga dunia. Selayaknya kita justru membeli akhirat kita dengan segala apa yang kita miliki di dunia ini.
Wallohu A’alam Bishowab.
Sumber: Majalah As-Saliim edisi 1,Agustus 2008
______________
Maroji’:
[1] Manajemen Qalbu Para Nabi menurut al-Qur`an dan as-Sunnah, Syekh Salim Bin Ied al-Hilali hal: 33.
[2] Lihat Mukoddimah terjemah Tazkiyatun Nufus, Imtihan As-Syafi`I hal: V.
[3] Taisirul Karimir Rahman Fi taafsiri Kalamil Mannan, Syekh Abd.Rahman as-Sa`di hal : 748. dengan penyesuaian.
[4] Lihat Tazkiyatun Nufus watarbiyatuha kama yuqorriruha Ulamau As-Salaf, Dr.Ahmad Farid hal: 38.
[5] Fiqh ad`iyah wal-adzkar, Syekh Abdur Rozzaq Abdul Muhsin Badr hal: 17.
[6] Fathul majid lisyarhi Kitab at-Tauhid, Abdirrohman Bin Hasan Bin Muhammad Bin Abdil Wahhab hal: 388.
[7] Kutipan dari Makalah : Abu Abdirrahman Abdullah Zaen, Lc. yang beliau ambil dari satu nasihat yang disampaikan Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-’Abbad .
Tags: Tazkiyatun Nafs, Ust Abu Ashim
Monday, March 29, 2010
Memilih Teman Dalam Menuntut Ilmu
Penulis: Redaksi Asy-syariah.com
Sepantasnya bagi seorang penuntut ilmu untuk tidak bergaul kecuali dengan orang yang bisa memberinya faedah (lmu) atau dia (teman tersebut) bisa mengambil faedah (ilmu) darinya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa.sallam :
“Hendaknya engkau menjadi seorang alim atau orang yang belajar. Jangan menjadi jenis yang ketiga, maka engkau akan binasa.” (HR. Ibnu Abdilbar dalam Kitabul ‘Ilmi)
Bila dia hendak ikut dalam pertemanan atau diajak berteman dengan seseorang yang menyia-nyiakan umurnya, tidak bisa memberinya faedah (ilmu), tidak pula bisa mengambil ilmu darinya, tidak bisa menolongnya untuk urusan yang sedang ditempuhnya (yakni ilmu), maka hendaknya dia dengan lemah lembut memutus jalan pertemanan tersebut dari awal, sebelum hubungan itu menjadi erat. Karena bila sesuatu telah kokoh, akan sulit menghilangkannya. Dan di antara ucapan yang beredar di kalangan fuqaha: “Mencegah lebih mudah daripada menghilangkan.”
Bila dia membutuhkan teman, hendaknya dia memilih orang yang shalih, beragama, bertakwa, wara’, cerdas, banyak kebaikannya lagi sedikit keburukannya, baik dalam bergaul, dan tidak banyak berdebat. Bila dia lupa, teman tersebut bisa mengingatkannya. Bila dia mencoba mengingat, teman ini bisa menolongnya. Bila dia sedang membutuhkan, temannya ini bisa membantu. Bila dia sedang bosan, teman ini bisa menyabarkan dirinya.
(Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim, karya Ibnu Jamaah Al-Kinani Rahimahullah, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah, hal. 83-84)
Di salin dari Majalah Asy Syariah Vol. V/No. 58/1431 H/2010
===============================================
Monday, March 22, 2010

NASIHAT UNTUK REMAJA MUSLIM
Kami persembahkan nasihat ini untuk saudara-saudara kami khususnya para pemuda dan remaja muslim. Mudah-mudahan nasihat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa diri mereka sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai seorang muslim, agar mereka merasa bahawa masa muda ini tidak selayaknya untuk diisi dengan perkara yang boleh melalaikan mereka dari mengingati Allah subhanahu wata’ala sebagai penciptanya, agar mereka tidak terus-menerus bergelimang ke dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri akhirat yang kekal abadi.
Wahai para pemuda muslim, tidakkah kamu menginginkan kehidupan yang bahagia selamanya? Tidakkah kamu menginginkan jannah (surga) Allah subhanahu wata’ala yang luasnya seluas langit dan bumi?
Ketahuilah, syurga Allah subhanahu wata’ala itu diperolehi dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam beramal. Syurga itu disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa yang mereka tahu bahawa hidup di dunia ini hanyalah sementara, mereka merasa bahawa gemerlapnya kehidupan dunia ini akan menipu umat manusia dan menyeret mereka kepada kehidupan yang sengsara di negeri akhirat selamanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)
Untuk Apa Kita Hidup di Dunia?
Wahai para pemuda, ketahuilah, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan kita bukan tanpa ada tujuan. Bukan pula memberikan kita kesempatan untuk bersenang-senang sahaja, tetapi untuk meraih sebuah tujuan mulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)
Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Itulah tugas utama yang harus dijalankan oleh setiap hamba Allah.
Dalam beribadah, kita dituntut untuk ikhlas dalam menjalankannya, iaitu dengan beribadah semata-mata hanya mengharapkan redha dan pahala dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan beribadah kerana terpaksa, atau kerana pengaruh terhadap orang-orang di sekitar kita. Apalagi beribadah dalam rangka agar dikatakan bahawa kita adalah orang-orang yang alim, kita adalah orang-orang soleh atau berbagai bentuk pujian dan sanjungan yang lain.
Umurmu Tidak Akan Lama Lagi
Wahai para pemuda, jangan sekali-kali terlintas di benakmu: "beribadah nanti saja kalau sudah tua, atau selagi masih muda, gunakan untuk foya-foya." Ketahuilah, itu semua merupakan rayuan syaitan yang mengajak kita untuk menjadi teman mereka di Neraka.
Tahukah kamu, bilakah kamu akan dipanggil oleh Allah subhanahu wata’ala, berapa lama lagi kamu akan hidup di dunia ini? Jawapannya adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Wahai para pemuda, bertaqwalah kamu kepada Allah subhanahu wata’ala. Mungkin hari ini kamu sedang berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang bergelak ketawa, berpesta ria, dan bergembira menyambut tahun baru dengan berbagai bentuk maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, tetapi keesokan harinya kamu sudah berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang menangis menyaksikan jasad-jasad kamu dimasukkan ke liang lahad (kubur) yang sempit dan sesak (sempit sekali - edt).
Betapa celaka dan ruginya kita, apabila kita belum sempat beramal soleh. Padahal, pada saat itu amalan diri kita sajalah yang akan menjadi pendamping kita ketika menghadap Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ, فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ, يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Yang mengiringi jenazah itu ada tiga iaitu keluarganya, hartanya, dan amalannya. Maka dua darinya akan kembali dan satu sahaja yang kekal (mengiringinya), keluarga dan hartanya akan kembali (pulang), dan amalannya kekal (mengiringinya).” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Wahai para pemuda, takutlah kamu kepada azab Allah subhanahu wata’ala. Sudahkah kamu persiapkan dengan timbangan amal yang pasti akan kamu hadapi nanti. Sudahkah cukup amalan yang kamu lakukan selama ini untuk menambah berat timbangan amal kebaikan.
Betapa sengsaranya kita, ketika ternyata nilai timbangan kebaikan kita lebih ringan daripada timbangan keburukan. Ingatlah akan firman Allah subhanahu wata’ala:
فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ نَارٌ حَامِيَةٌ
“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (iaitu) api yang sangat panas.” (Al Qari’ah: 6-11)
Bersegeralah dalam Beramal
Wahai para pemuda, bersegeralah untuk beramal kebajikan, dirikanlah solat dengan bersungguh-sungguh, ikhlas dan sesuai dengan tuntutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kerana solat adalah yang pertama kali akan dihisab kelak di hari kiamat, sebagaimana sabda baginda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلاَةُ
“Sesungguhnya amalan yang pertama kali manusia dihisab dengannya di hari kiamat adalah solat.” (HR. At Tirmidzi, An Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Lafazh hadits riwayat Abu Dawud no.733)
Bagi lelaki, hendaklah dengan berjama’ah di masjid. Banyaklah berzikir dan mengingati Allah subhanahu wata’ala. Bacalah Al-Qur’an kerana sesungguhnya ia akan memberikan syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat nanti.
Banyaklah bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang telah kamu lakukan selama ini. Mudah-mudahan dengan bertaubat, Allah subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa kamu dan memberi pahala yang dengannya kamu akan memperolehi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Wahai para pemuda, banyak-banyaklah beramal soleh, pasti Allah subhanahu wata’ala akan memberi kamu kehidupan yang bahagia, dunia dan akhirat. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik lelaki mahupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An Nahl: 97)
Engkau Habiskan untuk Apa Masa Mudamu?
Pertanyaan inilah yang akan diajukan kepada setiap hamba Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat nanti. Sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu hadisnya:
لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Tuhannya sehingga dia ditanya tentang lima perkara: umurnya ke mana dia habiskan, masa mudanya ke mana dia pergunakan, hartanya dari mana dia perolehi dan ke mana harta tersebut dibelanjakan, dan sudahkah dia beramal dengan ilmu yang telah diketahuinya.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)
Sekarang cubalah periksa diri kamu sendiri, sudahkah kamu mengisi masa mudamu untuk hal-hal yang bermanfaat dan yang mendatangkan keredhaan Allah subhanahu wata’ala? Ataukah kamu mengisi masa muda kamu dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya?
Kalau kamu masih lagi mengisi waktu muda kamu untuk bersenang-senang dan lupa kepada Allah subhanahu wata’ala, maka apakah jawapan yang akan kamu ucapkan di hadapan Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Menguasa di Hari Pembalasan? Tidakkah kamu takut akan ancaman Allah subhanahu wata’ala terhadap orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat? Padahal Allah subhanahu wata’ala telah mengancam pelaku kejahatan dalam firman-Nya:
مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, nescaya akan diberi balasan setimpal dengan kejahatan itu dan dia tidak akan mendapati pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An Nisa’: 123)
Bukanlah masa tua yang akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Oleh kerana itu, pergunakanlah kesempatan di masa muda kamu ini untuk kebaikan.
Ingat-ingatlah selalu bahawa setiap amal yang kamu lakukan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah subhanahu wata’ala.
Jauhi Perbuatan Maksiat
Apa yang menyebabkan Adam dan Hawa dikeluarkan dari Syurga? Tidak lain adalah kemaksiatan mereka berdua kepada Allah subhanahu wata’ala. Mereka melanggar larangan Allah subhanahu wata’ala kerana mendekati sebuah pohon di Syurga, mereka terpujuk oleh rayuan iblis yang mengajak mereka untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala.
Wahai para pemuda, iblis, syaitan, dan bala tenteranya senantiasa berupaya untuk mengajak umat manusia seluruhnya agar mereka bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, mereka mengajak umat manusia seluruhnya untuk menjadi temannya di neraka. Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala jelaskan dalam firman-Nya:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), kerana sesungguhnya syaitan-syaitan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
Setiap amalan keburukan dan maksiat yang engkau lakukan, walaupun sekecil-kecilnya pasti akan dicatat dan diperhitungkan di sisi Allah subhanahu wata’ala. Pasti engkau akan melihat akibat buruk dari apa yang telah engkau lakukan itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, necaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az Zalzalah: 8)
Syaitan juga menghendaki dengan kemaksiatan ini, umat manusia menjadi berpecah-belah dan saling bermusuhan. Jangan mengira bahawa ketika engkau bersama teman-temanmu melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wata’ala, itu merupakan wujud perasaan setia kawan dan bersatu padu di antara kamu. Sekali-kali tidak, justeru cepat atau lambat teman yang engkau cintai (sebenarnya) menjadi musuh yang paling engkau benci. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ
“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu kerana (meminum) arak dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan solat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).” (Al Maidah: 91)
Demikianlah syaitan menjadikan perbuatan maksiat yang dilakukan manusia sebagai sarana untuk memecah belah dan menimbulkan permusuhan di antara mereka.
Ibadah yang Benar Dibangun di atas Ilmu
Wahai para pemuda, setelah kamu mengetahui bahawa tugas utama kamu hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala semata, maka sekarang ketahuilah bahawa Allah subhanahu wata’ala hanya menerima amalan ibadah yang dikerjakan dengan benar. Untuk itulah wajib bagi kamu untuk belajar dan menuntut ilmu agama, mengenal Allah subhanahu wata’ala, mengenal Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengenal agama Islam ini, mengenal mana yang halal dan mana yang haram, mana yang haq (benar) dan mana yang batil (salah), serta mana yang sunnah dan mana yang bid’ah.
Dengan ilmu agama, kamu akan terbimbing dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, sehingga ibadah yang kamu lakukan benar-benar diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak orang yang beramal kebajikan tetapi ternyata amalannya tidak diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala, kerana amalannya tidak ditegakkan di atas ilmu agama yang benar.
Oleh kerana itu, wahai para pemuda muslim, pada kesempatan ini, kami juga menasihatkan kepada kamu sekalian agar banyak mempelajari ilmu agama, duduk di majlis-majlis ilmu, mendengarkan Al-Qur’an dan hadis serta nasihat dan penjelasan para ulama. Jangan sibukkan diri kamu dengan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi diri kamu, lebih-lebih lagi hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah subhanahu wata’ala.
Ketahuilah, menuntut ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap muslim, maka barangsiapa yang meninggalkannya dia akan mendapatkan dosa, dan setiap dosa pasti akan menyebabkan kecelakaan bagi pelakunya.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu agama itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no.224)
Akhir Kata
Semoga nasihat yang sedikit ini akan memberikan manfaat yang banyak kepada kita semua. Sesungguhnya nasihat itu merupakan perkara yang sangat penting dalam agama ini, bahkan saling memberikan nasihat merupakan salah satu sifat orang-orang yang dijauhkan dari kerugian, sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala firmankan dalam surat Al ‘Ashr:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasihat- menasihati dalam kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)
Wallahu ta‘ala a’lam bishshowab.
Sumber: Buletin Al-Ilmu, Penerbit Yayasan As-Salafy Jember
Nasihat Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’
Pertanyaan:
Bagaimana seorang muslim menempuh jalan keselamatan? Apa yang harus dilakukannya dalam menempuh kehidupan yang penuh dengan hal-hal yang bersifat kebendaan ini, yang manusia sangat berlebihan dalam bergelimang padanya sehingga menyebabkan kerasnya hati-hati mereka, Wal ‘Iyadzubillah?
Apa nasihat dan arahan anda kepada saya sebagai seorang pemuda berusia 20 tahun yang cenderung kepada dunia? Apa buku-buku yang anda nasihatkan kepada kami untuk dibaca?
Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’ menjawab:
Wajib atas engkau untuk bertaqwa kepada Allah ta’ala, mentaati-Nya, dan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi engkau dan menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat, menjauhi berbagai fitnah, senantiasa berbuat baik dan menghindari segala bentuk kejelekan, memperbanyak membaca Al-Qur’an serta berusaha untuk memahami maknanya, menjaga zikir-zikir yang sahih dan sabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disertai dengan sikap rendah diri dan menghadirkan hati (khusyu’), membaca kitab (buku-buku) yang terdapat banyak di dalamnya hikmah-hikmah dan nasihat-nasihat seperti kitab Al-Fawa’id dan kitab Ad-Da’u Wad Dawa’ yang keduanya karangan Ibnul Qayyim rahimahullah, berdoalah kepada Allah dalam sujud engkau dengan doa-doa yang terdapat dalam As-Sunnah disertai dengan rendah diri dan khusyu’, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah dan melapangkan hati engkau untuk berada di atas kebaikan, dan menjaga engkau dari segala fitnah yang nampak mahupun tersembunyi.
Dan di antara kitab-kitab yang bermanfaat adalah Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ighatsatul Lahfan yang keduanya karangan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan juga kitab Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid, disertai dengan perhatian kepada kitab Ash-Shahihain (Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim) dan tafsir Ibnu Katsir.
وصلى الله على نبينا محمد وصحبه وسلم
[Fatawa Islamiyyah IV/498]
Disunting oleh Abu Sholeh.
Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=418
Subscribe to:
Posts (Atom)