Sunday, January 17, 2010


Menjaga Rumah dari Gangguan Setan


Rumah adalah tempat berteduh bagi kita, tempat beristirahat dan tempat untuk mendapatkan kehangatan di tengah keluarga kita. Oleh kerana itu, kita sangat mendambakan rumah yang nyaman, aman, damai dan tenang. Beberapa orang mungkin menempuh cara-cara yang haram (kesyirikan) untuk mendapatkan hal tersebut, misalnya memasang tamimah (jimat), pergi ke dukun, dan lain-lain.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memberikan resepi yang mudah agar rumah kita senantiasa aman dari gangguan syaitan, yaitu dalam hadits berikut:

Dari Jabir bin ‘Abdillah bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Bila hari telah senja tahanlah anak-anakmu untuk tidak keluar rumah kerana pada waktu itu banyak setan berkeliaran. Bila waktu telah berlalu, biarkanlah mereka, tutuplah pintu-pintu rumah, sebutlah nama Allah, kerana setan tidak dapat membuka pintu-pintu yang tertutup. Tutuplah tempat minum dan sebutlah nama Allah, tutuplah bejana-bejana kalian dan sebutlah nama Allah, walau dengan meletakkan sesuatu di atasnya, dan matikan lampu-lampu.” (Mutafaqqun’alaihi)

Banyak sekali faedah yang kita dapat dari hadith ini, selain kita melindungi rumah dan anak-anak kita dari gangguan setan, juga terkandung faedah dalam menjaga makanan dari kotoran dan najis yang berasal dari haiwan-haiwan yang kotor (seperti tikus dan cicak) di malam hari, sehingga tidak menimbulkan penyakit. Dan dipadamkannya lampu di malam hari adalah untuk mencegah terjadinya kebakaran serta kalau zaman sekarang agar tidak boros dalam penggunaan elektrik.

Semoga kita bisa istiqomah dalam mengamalkan hadits ini sehingga rumah dan keluarga kita dijauhkan dari gangguan syaithan.

*) Disadur ulang dari Tarbiyatul Abna (edisi terjemahan), Musthofa Al-Adawi

***

Wednesday, January 13, 2010

Bingkisan Istimewa untuk Saudariku yang Berkeinginan dan Berusaha Menjadi Pecinta Kitabullah

Lanjutan artikel Bingkisan Istimewa untuk Saudariku agar Bersegera Meninggalkan Musik dan Lagu

Penyusun: Ummu Rumman
Muraja’ah: Ustadz Abu Salman

Kembalilah pada Kitabullah, Al Qur’an Al-Karim

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk pada (jalan) yang lebih lurus.” (QS. Al Isra’ 9)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian Kitabullah, yang jika kalian berpegang teguh dengannya, maka kalian tidak akan tersesat.” (HR. Muslim dan At-Turmudzi)

Allah telah menurunkan Al-Qur’an untuk diimani, dipelajari, dibaca, ditadabburi, diamalkan, dijadikan sandaran hukum, dijadikan rujukan dan untuk dijadikan obat dari berbagai penyakit dan kotoran hati serta untuk hikmah-hikmah lain yang Allah kehendaki dari penurunannya. Ukhty, pahamilah hal ini…

Selamatkanlah dirimu dengan bertaqwa kepada Allah. Tanamkanlah kemauan yang keras untuk mengambil manfaat dari Al Qur’an dalam segala hal yang memungkinkan. Demi Allah, semakin engkau berusaha mendekatinya, merenungi dan men-tadabburi, maka semakin banyak kebaikan yang akan engkau dapatkan.

Perbaguslah dan Perbanyaklah dalam Membacanya

Adapun membacanya, maka itu disyari’atkan dan disunnahkan memperbanyak membacanya serta mengkhatamkannya sebulan sekali, namun ini tidak wajib. Seandainya engkau bisa mengkhatamkannya kurang dari sebulan lakukanlah karena itu lebih bagus, akan tetapi jangan sampai kurang dari 3 hari.

Ukhty, Tidakkah Engkau Menginginkan Pahala yang Banyak dari Rabbmu ?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang membaca Al Qur’an sementara dia mahir, maka dia bersama malaikat para penulis, yang mulia lagi berbakti, dan orang yang membaca Al Qur’an dan terbata-bata membacanya karena hal itu sulit baginya, maka dia mendapat dua pahala.” (Muttafaq ‘alaih)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengangkat derajat banyak kaum dengan Al Qur’an dan menghinakan yang lain dengannya pula. Maka apa yang sudah kita usahakan agar derajat kita terangkat di sisi Allah. Menginginkan suatu hal takkan ada artinya kecuali kita bangkit dan bertindak untuk mencapai yang kita inginkan.

Raihlah Derajat Tinggi di Surga dengan Menghafalnya

Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan dikatakan kepada penghafal Al-Qur’an jika dia telah memasuki surga: ‘Baca dan naiklah.’ Kemudian dia membaca dan naik bersama setiap ayat satu tingkatan. Sampai dia membaca ayat terakhir yang ia hafal.” (HR. Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi dan Al-Hakim)

Dalam lafadz Tirmidzi, akan dikatakan pada para penghafal Al-Qur’an: “Bacalah, naiklah, dan bacalah dengan tartil sebagaimana ketika di dunia kau selalu baca dengan tartil. Maka sesungguhnya tingkatan derajatmu pada ayat yang terakhir engkau baca.” (HR Tirmidzi)

Ummu Darda’ radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah rodhiyallahu ‘anha tentang penghafal Al Qur’an yang memasuki surga, apa keutamaannya jika dibandingkan dengan orang yang tidak menghafalnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Sesungguhnya tingkatan surganya adalah sejumlah ayat-ayat Al Qur’an. Maka tidak ada seorangpun yang melampaui derajat penghafal Al Qur’an di dalam surga.” (HR. Al-Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah, dan Al Baghawi)

Ya ukhty, cobalah menghafal beberapa ayat Al Qur’an dan rasakan bagaimana iman akan mengalir di dalam kalbu. Nikmatilah ketenangan yang kau dapatkan setiap kali mengulangi bacaan tersebut. Betapa rindunya hati ini untuk mendengar lantunan ayat-ayat mengenai keindahan surga… dan kekerasan hati menjadi luluh ketika mendengar ayat akan kengerian neraka.

Sesungguhnya dengan menghafal Al-Qur’an, kita bisa menghitung derajat kita di dalam surga. Sesungguhnya dengan satu ayat kita akan bisa menaiki satu derajat. Maka, tidakkah kita ingin mencapai tingkat surga yang setinggi-tingginya. Janganlah memuaskan diri dengan ingin masuk surga derajat terendah. Berharaplah dan kejarlah surga derajat tertinggi…

Bingkisan Istimewa untuk Saudariku yang Berkeinginan dan Berusaha Menjadi Penghafal Al Qur’an

Ya ukhty, kini telah hadir keinginan untuk menghafalkan Kitabullah. Kita telah menanamkan semangat yang kuat, tapi seiiring berjalannya waktu kejemuan mulai melanda, kesibukan-kesibukan lain menghadang, menghafal Al Qur’an menjadi terasa sulit… maka bacalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, “Jagalah (hafalan) Al-Qur’an, demi Dzat yang jiwa saya ada tangan-Nya, sesungguhnya Al-Qur’an itu sangat cepat terlepas melebihi (lepasnya) unta dari ikatannya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dari hadits Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu no. 5033, kitab Fadha’il Al-Qur’an bab 23, dan Imam Muslim juga dari Abu Musa no. 1/23-(791), kitab Shalat Al-Musafirin bab 33)

Bagaimanakah agar Ikatan Unta Tidak Terlepas ?

Tentulah dengan mengikatnya dengan kuat kemudian menjaganya. Ukhty, Al-Qur’an membutuhkan banyak-banyak mengulang dan membaca. Bila engkau telah hafal satu surat, maka seringlah membaca dan mengulang-ngulangnya sampai mantap dan kuat, jangan pindah ke surat lain, kecuali bila engkau sudah menghafalnya dengan mantap.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk dijadikan pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?” (QS. Al-Qamar: 17)

Dan yang menentukan adalah kemauan orang dan ketulusan niatnya. Bila dia memiliki kemauan yang tulus dan keseriusan terhadap Al-Qur’an, maka Allah akan memudahkan dia untuk menghafalnya dan menjadikan Al-Qur’an itu mudah untuk dihafal.

Engkau bisa menambah hafalan di pagi hari setelah sholat Shubuh atau di waktu lain engkau lebih bisa berkonsentrasi. Lalu engkau bisa mengulangnya pada hari itu. Perlukah waktu khusus ukhty ? Tidak. Engkau bisa mengulanginya ketika engkau sholat, berjalan menuju kampus, atau ketika menunggu kedatangan temanmu. Engkau bisa membacanya di berbagai tempat dan waktu, asal engkau tetap menjaga adab-adabnya.

Ukhty, semoga Allah meluruskan niatku dan niatmu. Mohonlah kemudahan dari Allah. Katakanlah pada dirimu, sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan kesulitan yang dihadapi. Katakanlah, dagangan Allah itu teramat mahal. Takkan bisa kita dapatkan kecuali dengan kesungguhan, kerja keras dan kesabaran. Katakanlah, tak ada lagi kesulitan setelah masuk surga, dan tak ada kebahagiaan secuil pun di dalam neraka. Dan bukankah yang kita tuju adalah kebahagiaan abadi di dalam surga-Nya serta kenikmatan melihat wajah-Nya…

Ukhty Muslimah, Didiklah Anak-Anakmu untuk mencintai Al-Qur’an, serta Memperbanyak Membaca dan Menghafalnya

Ya ukhty, bingkisan terakhir untukmu… sesungguhnya orang yang menunjukkan kepada seseorang kebaikan maka akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. Maka didik dan doronglah anak-anakmu untuk membaca, mentadabburi, serta menghafal Al Qur’an. Ketika engkau merasa jemu atau lelah dalam mengajar mereka, bayangkan balasan yang akan engkau dapatkan setiap kali anak-anakmu membaca Al-Qur’an. Semoga semua usahamu untuk mendidik mereka mendapat balasan yang lebih baik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita memohon pada Allah agar ditolong dan dimudahkan dalam membaca, mempelajari dan menghafal, serta mengamalkan kandungan Kitabullah. Semoga Al Qur’an bisa menjadi pemberi syafa’at dan menolong kita di akhirat kelak. Dan kita berharap agar Allah tidak menjadikan Al Qur’an menjadi hujjah yang justru akan mencelakan kita di akhirat. Aamiin…

Sebuah nasehat terutama untuk diriku dan saudariku…

Alhamdullilaahiladzi bini’ matihi tatimmush shalihaat

Maraji’:

  1. 70 Fatwa Tentang Al-Qur’an (Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz)
  2. Berbenah Diri untuk Penghafal Al-Qur’an (Dr. Anis Ahmad Kurzun), Majalah As Sunnah, edisi Ramadhan 06-07/ Tahun XI/ 1428H/ 2007M
  3. Bersanding dengan Bidadari di Surga (Dr. Muhammad bin Ibrahim An-Naim)
  4. Hukum Musik dan Lagu, Rasa’ilut Taujihaat Al Islamiyyah, 1/ 514 – 516 (Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)
  5. Kiat Mengatasi Kendala Membaca dan Menghafal Al-Qur’an (Haya Ar-Rasyid)

***



Tuesday, January 12, 2010

WAJIBNYA MENCINTAI DAN MENGANGUNGKAN NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM SERTA LARANGAN GHULUW (BERLEBIH-LEBIHAN)

Oleh

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas




[E]. Larangan Ghuluw dan Berlebih-lebihan dalam Memuji Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ghuluw artinya melampaui batas. Dikatakan: "ghalaa-yagluu-ghuluwan' jika ia melampaui batas dalam ukuran. Allah berfirman:

“Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu.” [An-Nisaa': 171]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jauhkanlah diri kalian dari ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya sikap ghuluw ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” [1]

Salah satu sebab yang membuat seseorang menjadi kufur adalah sikap ghuluw dalam beragama, baik kepada orang shalih atau dianggap wali, maupun ghuluw kepada kuburan para wali, hingga mereka minta dan berdo’a kepadanya padahal ini adalah perbuatan syirik akbar.

Sedangkan ithra’ artinya melampaui batas (berlebih-lebihan) dalam memuji serta berbohong karenanya. Dan yang dimaksud dengan ghuluw dalam hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melampaui batas dalam menyanjungnya, sehingga mengangkatnya di atas derajatnya sebagai hamba dan Rasul (utusan) Allah, menisbatkan kepadanya sebagian dari sifat-sifat Ilahiyyah. Hal itu misalnya dengan memohon dan meminta pertolongan kepada beliau, tawassul dengan beliau, atau tawassul dengan kedudukan dan kehormatan beliau, bersumpah dengan nama beliau, sebagai bentuk ‘ubudiyyah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, perbuatan ini adalah syirik.

Dan yang dimaksud dengan ithra’ dalam hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berlebih-lebihan dalam memujinya, padahal beliau telah melarang hal tersebut melalui sabda beliau:

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah, ‘‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).’” [2]

Dengan kata lain, janganlah kalian memujiku secara bathil dan janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku. Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Nasrani terhadap ‘Isa Alaihissalam, sehingga mereka menganggapnya memiliki sifat Ilahiyyah. Karenanya, sifatilah aku sebagaimana Rabb-ku memberi sifat kepadaku, maka katakanlah: “Hamba Allah dan Rasul (utusan)-Nya.” [3]

‘Abdullah bin asy-Syikhkhir Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika aku pergi bersama delegasi Bani ‘Amir untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami berkata kepada beliau, “Engkau adalah sayyid (penguasa) kami!” Spontan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Sayyid (penguasa) kita adalah Allah Tabaaraka wa Ta’aala!”

Lalu kami berkata, “Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling agung kebaikannya.” Serta merta beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:.

“Katakanlah sesuai dengan apa yang biasa (wajar) kalian katakan, atau seperti sebagian ucapan kalian dan janganlah sampai kalian terseret oleh syaithan.” [4]

Anas bin Malik Radhiyallahu a’nhu berkata, “Sebagian orang berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik di antara kami dan putera orang yang terbaik di antara kami! Wahai sayyid kami dan putera sayyid kami!’ Maka seketika itu juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai manusia, ucapkanlah dengan yang biasa (wajar) kalian ucapkan! Jangan kalian terbujuk oleh syaithan, aku (tidak lebih) adalah Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka kalian mengangkat (menyanjung)ku di atas (melebihi) kedudukan yang telah Allah berikan ke-padaku.” [5]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci jika orang-orang memujinya dengan berbagai ungkapan seperti: “Engkau adalah sayyidku, engkau adalah orang yang terbaik di antara kami, engkau adalah orang yang paling utama di antara kami, engkau adalah orang yang paling agung di antara kami.” Padahal sesungguhnya beliau adalah makhluk yang paling utama dan paling mulia secara mutlak. Meskipun demikian, beliau melarang mereka agar menjauhkan mereka dari sikap melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam menyanjung hak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga untuk menjaga kemurnian tauhid. Selanjutnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan mereka agar menyifati beliau dengan dua sifat yang merupakan derajat paling tinggi bagi hamba yang di dalamnya tidak ada ghuluw serta tidak membahayakan ‘aqidah. Dua sifat itu adalah ‘Abdullaah wa Rasuuluh (hamba dan utusan Allah).

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka disanjung melebihi dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan dan Allah ridhai. Tetapi banyak manusia yang melanggar larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, sehingga mereka berdo’a kepadanya, meminta pertolongan kepadanya, bersumpah dengan namanya serta meminta kepadanya sesuatu yang tidak boleh diminta kecuali kepada Allah. Hal itu sebagaimana yang mereka lakukan ketika peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam kasidah atau anasyid, di mana mereka tidak membedakan antara hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-‘Allamah Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Rahimahullah dalam kasidah nuniyyah-nya berkata:

“Allah memiliki hak yang tidak dimiliki selain-Nya,
bagi hamba pun ada hak, dan ia adalah dua hak yang berbeda.
Jangan kalian jadikan dua hak itu menjadi satu hak,
tanpa memisahkan dan tanpa membedakannya.”[6]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, PO BOX 7803/JACC 13340A. Cetakan Ketiga Jumadil Awwal 1427H/Juni 2006M]
_________
Footnotes
[1]. HR. Ahmad (I/215, 347), an-Nasa-i (V/268), Ibnu Majah (no. 3029), Ibnu Khuzaimah (no. 2867) dan lainnya, dari Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu 'anhuma. Sanad hadits ini shahih menurut syarat Muslim. Dishahihkan oleh Imam an-Nawawi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
[2]. HR. Al-Bukhari (no. 3445), at-Tirmidzi dalam Mukhtasharusy Syamaail al-Muhammadiyyah (no. 284), Ahmad (I/23, 24, 47, 55), ad-Darimi (II/320) dan yang lainnya, dari Sahabat ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu
[3]. Aqiidatut Tauhiid (hal 151).
[4]. HR. Abu Dawud (no 4806), Ahmad (IV/24, 25), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no 211/ Shahiihul Adabil Mufrad no 155), an-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 247, 249). Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Rawi-rawinya shahih. Dishahihkan oleh para ulama (ahli hadits).” (Fathul Baari V/179)
[5]. HR. Ahmad (III/153, 241, 249), an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 249, 250) dan al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 2675). Sanadnya shahih dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu
[6]. 'Aqiidatut Tauhiid (hal. 152) oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan




Monday, January 4, 2010

Iman Subur Terjaga


Iman,sebagaimana persepsi ahlus sunnah dapat mengalami penambahan dan pengurangan. Bertambah tatkala seseorang giat dalam melaksanakan ketaatan dan kebaikan.Berkurang ketika banyak keburukan dan maksiat yang dilakukan.


Ini merupakan langkah dan tips agar iman sentiasa tumbuh subur dan berkembang dengan sempurna:-

1. Mempelajari ilmu yang bermanfaat . Ertinya ilmu di sini ialah ilmu yang bersandarkan pada kitabullah dan sunnah Rasullulah s.a.w.Sebagaimana firman Allah s.w.t :(Ali -Imran :18)

"Allah menyatakan bahawasanya tidak ada Tuhan melainkan dia(yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu ). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Allah juga menyatakan ,
"......Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya , hanyalah ulama'. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun ." (Fathiir: 28)

Maksud dengan ulama' dalam ayat ini ialah orang-orang berilmu yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah s.w.t Ilmu yang bermanfaat yang dapat membantu empunya mempertebal keimanan di antaranya:

a. Membaca dan mempelajari Al-Quran dengan benar.
b. Mengenal nama-nama Allah s.w.t yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.
c. Mempelajari sejarah Nabi s.a.w dan mengambil pelajaran darinya.

2. Mempelajari tanda-tanda kekuasaan Allah s.w.t yang ada .Memperhatikan penciptaan Allah berupa makhluk -Nya yang beraneka ,memperhati keindahan langit dan bumi serta alam sekitar kita yang lain.

3. Bersemangat dalam melakukan dzikir dan berbagai ketaatan yang ditujukan hanya untuk mencari wajah-Nya s.w.t . Termasuk di dalamnya adalah memperbanyakkan ibadah dan istiqomah dalam melaksanakanya. Sebagaimana perkataan Syaikh Ibnu Sa'di , "Dan termasuk hal-hal yang dapat menaikkan kadar iman adalah memperbanyakkan dzikir kepada Allah di setiap waktu , dan (juga) doa yang menjadi inti dari ibadah."(At-Taudzihul Bayan, hal. 32).

Perlu di ketahui bahawa amal kebaikan di sini tidak sekadar amalan tubuh , melainkan merangkumi amalan hati dan juga lisan .

Semoga Allah s.w.t menjadikan kita dalam jajaran hamba yang sentiasa menjaga iman dan menyuburkannya . Amiin!




PPost Before “read more”

And here is the rest of it

Wednesday, December 23, 2009

Hukum Bermain Dadu

Banyak Permainan terkenal yang digemari leh orang ramai mengandungi perkara yang diharamkan oleh syariat.Diantaranya permainan dadu yang darinya muncul permainan seperti rolet dan seumpamanya,RasululLah S.A.W memperingatkan permainan yang merupakan pintu kepada perjudian sebagaimana dalam sabdanya “read more”

( من لعب بالنردشير فكأنما صبغ يده في لحم الخنزير ودمه ) - Sesiapa yang bermain dadu maka ia seolah-olah mencelup tangannya ke dalam daging babi dan darah babi.Hadits Riwayat Muslim 4/1770.
Dalam hadits marfu'Abu Musa Asy-a'ari meriwayatkan: ( من لعب بالنرد فقد عسى الله ورسوله ) Sesiapa yang bermain dadu maka ia telah berbuat maksiat kepada Allah dan RasulNya.Hadits Riwayat Bukhari 10/465

Nukilan dari:Buku DOSA_DOSA Yang di pandang ringan oleh manusia karya Muhammad Soleh al-Munajjid.

Monday, December 21, 2009



SABAR DALAM UJIAN DAN DUGAAN ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA

Sesungguhnya ujian dan dugaan yang datang bertubi-tubi menerpa hidup manusia merupakan satu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Tidak satu pun diantara kita yang mampu menghalau ketentuan tersebut.

Keimanan, keyakinan, tawakkal dan kesabaran yang kukuh dan kuat amatlah diperlukan oleh setiap orang hambanya dalam menghadapi berbagai dugaan yang menimpanya. Sehingga tidak menjadikan dirinya berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala terhadap apa yang telah ditentukan baginya.

Oleh karena itu, dalam keadaan apapun seorang hamba yang beriman kepada-Nya harus sentiasa berbaik sangka kepada Allah. Dan haruslah diyakini bahwa tidaklah Allah menurunkan berbagai musibah melainkan sebagai batu ujian atas keimanan yang mereka miliki. Allah Ta’ala berfirman :

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (dugaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.” (Al Baqarah : 214)
Kesabaran merupakan perkara yang amat dicintai oleh Allah dan sangat diperlukan bagi seorang muslim dalam menghadapi ujian dan dugaan yang dialaminya.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita keperibadian yang tinggi dalam menghadapi berbagai dugaan di dunia ini dan begitu juga kembali ke Akhirat kelak, dalam keadaan memperolehi redha-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

WANITA DAN DAKWAH


Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Bazz Rahimahullah
(Majmu’ Fatawa wa Maqaalat, 7/323-326)

Wanita sama seperti lelaki dalam kewajiban berdakwah kepada Allah dan beramar ma’ruf nahyi mungkar.

Dalil-dalil dari Al-qur’an dan Sunnah mencukupi semuanya, kecuali yang dikecualikan oleh dalil. Ucapan para ulama juga jelas dalam hal itu. Diantara dalil dari Al-qur’an tentang hal itu (yang ertinya): “Kaum mukminin dan mukminat, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian lainnya. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (At-Taubah : 71)
“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan bagi manusia. Kalian menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar serta kalian beriman kepada Allah.” (Ali Imron : 110)

Hendaknya wanita itu berdakwah kepada Allah dengan adab-adab yang sesuai dengan syari’at yang juga dituntut dari para lelaki. Wanita itu juga harus sabar dan mengharap pahala dari Allah (yang ertinya): “Bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal : 46)

Dan juga firman Allah azza wajalla yang menceritakan ucapan Luqman kepada anaknya (yang ertinya): “Wahai anakku, dirikanlah sholat, suruhlah kepada yang ma’ruf, laranglah dari yang mungkar dan bersabarlah engkau menghadapi apa yang menimpamu, kerana itu adalah perkara yang diwajibkan Allah.” (Luqman : 17)

Kemudian dia juga hendaknya memperhatikan beberapa perkara, seperti: dia harus menjadi tauladan dalam menjaga iffah (kehormatan), hijab dan amal sholih. Hendaknya dia menjauhi tabarruj dan ikhtilath (bercampur-baur antara lekai dan wanita yang bukan muhrim) yang itu adalah terlarang hingga dia berdakwah dengan ucapan dan perbuatan dalam meninggalkan apa yang diharamkan Allah atasnya. (Ini jawapan atas soal: Apakah pendapat Anda antara wanita dan dakwah?)

Soal berikutnya:
Apakah perlu kita sediakan waktu untuk wanita agar dia berdakwah kepada Allah?

Jawab:
Saya tidak dapati ada larangan dalam hal itu. Jika ditemui ada wanita solehah yang boleh berdakwah, dan selayaknya dia dibantu, mengatur waktunya, diminta darinya untuk membimbing para wanita sejenisnya, karena memang para wanita butuh kepada para pembimbing wanita. Adanya wanita seperti ini di kalangan wanita lainnya kadang lebih bermanfaat dalam menyampaikan dakwah untuk mengajak kepada jalan yang benar daripada lelaki . Kadang wanita-wanita itu malu bertanya kepada da’i yang lelaki sehingga dia menyembunyikan apa yang seharusnya dia tanyakan. Kadang pula dia terlarang untuk mendengarkan dakwah dari lelaki atau ustaz-ustaz. Namun jika da’inya wanita, dia tidak demikian. Kerana dia boleh hampir dengan da'i wanita tersebut dan menyampaikan apa yang perlu baginya serta hal itu lebih besar pengaruhnya.

Maka wanita yang memiliki ilmu hendaknya menjalankan kewajiban dakwah ini dan membimbing kepada kebaikan semampunya berdasarkan firman Allah (yang ertinya): “Ajaklah mereka kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang paling baik.” (An-Nahl : 125)
“Katakanlah: Inilah jalanku, aku berdakwah kepada Allah berdasarkan bashiroh (ilmu), aku dan orang yang mengikutiku.” (Yusuf : 108)

“Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang berdakwah kepada Allah dan beramal soleh dan dia mengatakan: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Islam).”
(At-Taghabun:16)

Dan juga firman Allah Subhanahuwata’ala (yang ertinya): “Maka bertaqwalah kalian semampunya.” (Fushilat : 33)
Ayat-ayat yang semakna dengan ini cukup banyak. Merangkumi lelaki dan wanita dan hanya Allah lah yang memberikan taufiq.



Dikutip dari Buletin Islamiy “Al-Minhaj”, Edisi kedua Tahun I, hal. 16.
Diterbitkan oleh Maktabah Adz Dzahabi Group, Kota Medan
Sumber:http://www.thullabul-ilmiy.or.id